Pages

22 September 2012

Ilmu Grafologi

Apa itu ilmu grafologi? Ilmu grafologi atau ilmu analisa tulisan tangan adalah metode ilmiah untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengetahui kepribadian penulis melalui tarikan dan pola yang ditampilkan oleh tulisan tangan seseorang. Yang tidak banyak diketahui masyarakat awam adalah gerakan otot-otot halus jari-jemari kita pada saat menulis itu merupakan perwujudan dari Ideo Motor Responses (IMR) yaitu proses gerakan refleks otot-otot halus yang merupakan reaksi atas stimulasi bawah sadar seseorang. Oleh karena gerakan ini terjadi spontan dan otomatis, tulisan tangan akan secara "jujur" mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran bawah sadar penulisnya, tanpa si penulis sendiri menyadarinya.

Jadi dapat kusimpulkan, kita nggak boleh iri sama orang yang tulisan tangannya lebih rapi, tentunya kita juga nggak boleh bangga kalau tulisan tangan kita lebih rapi dibanding tulisan tangan orang lain. Tulisan tangan setiap orang pasti berbeda. Ada yang rapi, ada yang tidak. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang tegak, ada yang miring. Dari ciri-ciri tulisan tangan itulah kita dapat mengetahui kepribadian diri kita sendiri. Kita dapat mengetahui sifat-sifat yang ternyata selama ini ada dalam diri kita. Baik sifat baik, maupun sifat buruk...


Bicara soal ilmu grafologi nih... Pulang sekolah tadi aku dan beberapa temanku konsultasi sama calon psikolog di sekolah, namanya mbak Dina. Kita ngobrol panjang lebar tentang akademis. Kayaknya konsultasi akademis gini nggak mungkin cuma sekali deh. Habisnya meskipun udah konsultasi gini, aku masih aja galau akademis -___-

Di tengah-tengah konsultasi, tiba-tiba si April nyeletuk "Mbak Dina bisa baca tulisan tangan nggak?" dan mbak Dina menjawab iya. Langsung deh kita heboh tulisan tangan kita minta dibaca. Akhirnya mbak Dina nyuruh kita nulis apa yang mbak Dina ucapin di selembar kertas polos semacam hvs gitu. Setelah nulis, kita disuruh menggambar rumah, pohon, dan orang di halaman sebaliknya.

Saat tulisanku dibaca, aku cuma bisa angguk-angguk membenarkan kata-kata mbak Dina. That's so me!

Pertama...
Aku ini tipe orang yang sudah mantap dan yakin akan pilihanku sendiri. Siap menerima resiko apapun yang terjadi. Aku punya tujuan yang benar-benar sesuai minatku. Tapi entah apa tujuan itu, mbak Dina nggak tau. Aku pun nggak tau sama sekali kalau aku semantap itu akan tujuanku. Sayangnya, aku ini juga tipe orang yang gampang banget terpengaruh oleh lingkungan. Entah keluarga, maupun teman-teman. Aku orangnya peragu. Ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang sebenarnya sudah terputuskan sejak dulu. Hal itu disebabkan oleh lingkungan yang tidak sejalan atau searah dengan pikiran dan tujuanku. Maka dari itu, wajar aja kalau aku masih galau akademis dalam menentukan fakultas yang benar-benar sesuai dengan minatku -___-

Kedua...
"Kenapa sih kamu harus minder?"
Kalimat mbak Dina yang satu ini jleb. Faktanya, dalam lubuk hati yang terdalam aku memang membenarkan hal yang satu ini. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak tahu-menahu akan sifat minderku ini...
Minder? Dalam hal? Banyak. Satu di antaranya, aku minder sama saudara-saudara sepupuku yang sering banget orang tuaku banding-bandingkan dengan diriku. Ya, aku tahu sebagian besar dari mereka bisa dengan mudah diterima di fakultas ternama di UGM. Jujur, aku juga ingin seperti mereka. Tapi, aku tetaplah aku, yang tidak akan pernah bisa disamakan dengan mereka. Mungkin aku seperti ini karena aku memang belum menemukan motivasiku untuk rajin belajar. Tapi, aku yakin suatu saat nanti aku akan menemukan motivasi itu.


Terkadang orang tua memang menuntut banyak hal dari anaknya, apalagi yang bersangkutan dengan pendidikan. Hal itu semata agar anaknya dapat terarah agar masa depannya tidak suram. Terkadang kita menganggap mereka terlalu mengekang. Tapi asal kita tahu saja, kitalah yang kesusahan mengekspresikan tuntutan-tuntutan itu pada orang tua. Sehingga justru kitalah yang merasa tertekan... Bukan merasa sok bijak, tapi ini memang kata-kata mbak Dina tadi .___.

"Kamu ini cerdas, IQmu aja segitu. Tapi kenapa nilaimu tetep aja jeblok?"
Kalimat yang satu ini bukan terucap dari mulut mbak Dina, tapi dari kedua orang tuaku. IQ setinggi apapun itu, kalau tidak didukung dengan belajar sungguh-sungguh juga pasti hasilnya nggak akan bagus, kan? Lagi-lagi, nilai bagus terhambat oleh kemalasan yang tiada henti ini.

No comments:

Post a Comment